Tampilkan postingan dengan label 8 Process. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 8 Process. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Oktober 2010

Proses Pembuatan Keramik



Membuat keramik memerlukan teknik-teknik yang khusus dan unik. Hal ini berkaitan dengan sifat tanah liat yang plastis dimana diperlukan ketrampilan tertentu dalam pengolahan maupun penanganannya. Membuat keramik berbeda dengan membuat kerajinan kayu, logam, maupun yang lainnya. Proses membuat keramik adalah rangkaian proses yang panjang yang didalamnya terdapat tahapan-tahapan kritis. Kritis, karena tahapan ini paling beresiko terhadap kegagalan. Tahapan proses dalam membuat keramik saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Proses awal yang dikerjakan dengan baik, akan menghasilkan produk yang baik juga. Demikian sebaliknya, kesalahan di tahapan awal proses akan mengasilkan produk yang kurang baik juga.
Tahap-tahap membuat keramik
Ada beberapa tahapan proses yang harus dilakukan untuk membuat suatu produk keramik, yaitu:
1. Pengolahan bahan
Tujuan pengolahan bahan ini adalah untuk mengolah bahan baku dari berbagai material yang belum siap pakai menjadi badan keramik plastis yang telah siap pakai. Pengolahan bahan dapat dilakukan dengan metode basah maupun kering, dengan cara manual ataupun masinal. Didalam pengolahan bahan ini ada proses-proses tertentu yang harus dilakukan antara lain pengurangan ukuran butir, penyaringan, pencampuran, pengadukan (mixing), dan pengurangan kadar air. Pengurangan ukuran butir dapat dilakukan dengan penumbukan atau penggilingan dengan ballmill. Penyaringan dimaksudkan untuk memisahkan material dengan ukuran yang tidak seragam. Ukuran butir biasanya menggunakan ukuran mesh. Ukuran yang lazim digunakan adalah 60 – 100 mesh.
Pencampuran dan pengadukan bertujuan untuk mendapatkan campuran bahan yang homogen/seragam. Pengadukan dapat dilakukan dengan cara manual maupun masinal dengan blunger maupun mixer.
Pengurangan kadar air dilakukan pada proses basah, dimana hasil campuran bahan yang berwujud lumpur dilakukan proses lanjutan, yaitu pengentalan untuk mengurangi jumlah air yang terkandung sehingga menjadi badan keramik plastis. Proses ini dapat dilakukan dengan diangin-anginkan diatas meja gips atau dilakukan dengan alat filterpress.
Tahap terakhir adalah pengulian. Pengulian dimaksudkan untuk menghomogenkan massa badan tanah liat dan membebaskan gelembung-gelembung udara yang mungkin terjebak. Massa badan keramik yang telah diuli, disimpan dalam wadah tertutup, kemudian diperam agar didapatkan keplastisan yang maksimal.
2. Pembentukan
Tahap pembentukan adalah tahap mengubah bongkahan badan tanah liat plastis menjadi benda-benda yang dikehendaki. Ada tiga keteknikan utama dalam membentuk benda keramik: pembentukan tangan langsung (handbuilding), teknik putar (throwing), dan teknik cetak (casting).
Pembetukan tangan langsung
Dalam membuat keramik dengan teknik pembentukan tangan langsung, ada beberapa metode yang dikenal selama ini: teknik pijit (pinching), teknik pilin (coiling), dan teknik lempeng (slabbing).
Pembentukan dengan teknik putar
Pembentukan dengan teknik putar adalah keteknikan yang paling mendasar dan merupakan kekhasan dalam kerajinan keramik. Karena kekhasannya tersebut, sehingga keteknikan ini menjadi semacam icon dalam bidang keramik. Dibandingkan dengan keteknikan yang lain, teknik ini mempunyai tingkat kesulitan yang paling tinggi. Seseorang tidak begitu saja langsung bisa membuat benda keramik begitu mencobanya. Diperlukan waktu yang tidak sebentar untuk melatih jari-jari agar terbentuk ’feeling’ dalam membentuk sebuah benda keramik. Keramik dibentuk diatas sebuah meja dengan kepala putaran yang berputar. Benda yang dapat dibuat dengan keteknikan ini adalah benda-benda yang berbentuk dasar silinder: misalnya piring, mangkok, vas, guci dan lain-lain. Alat utama yang digunakan adalah alat putar (meja putar). Meja putar dapat berupa alat putar manual mapupun alat putar masinal yang digerakkan dengan listrik.
Secara singkat tahap-tahap pembentukan dalam teknik putar adalah: centering (pemusatan), coning (pengerucutan), forming (pembentukan), rising (membuat ketinggian benda), refining the contour (merapikan).
Pembentukan dengan teknik cetak
Dalam keteknikan ini, produk keramik tidak dibentuk secara langsung dengan tangan; tetapi menggunakan bantuan cetakan/mold yang dibuat dari gipsum. Teknik cetak dapat dilakukan dengan 2 cara: cetak padat dan cetak tuang (slip). Pada teknik cetak padat bahan baku yang digunakan adalah badan tanah liat plastis sedangkan pada teknik cetak tuang bahan yang digunakan berupa badan tanah liat slip/lumpur. Keunggulan dari teknik cetak ini adalah benda yang diproduksi mempunyai bentuk dan ukuran yang sama persis. Berbeda dengan teknik putar atau pembentukan langsung,
3. Pengeringan
Setelah benda keramik selesai dibentuk, maka tahap selanjutnya adalah pengeringan. Tujuan utama dari tahap ini adalah untuk menghilangkan air plastis yang terikat pada badan keramik. Ketika badan keramik plastis dikeringkan akan terjadi 3 proses penting: (1) Air pada lapisan antarpartikel lempung mendifusi ke permukaan, menguap, sampai akhirnya partikel-partikel saling bersentuhan dan penyusutan berhenti; (2) Air dalam pori hilang tanpa terjadi susut; dan (3) air yang terserap pada permukaan partikel hilang. Tahap-tahap ini menerangkan mengapa harus dilakukan proses pengeringan secara lambat untuk menghindari retak/cracking terlebih pada tahap 1 (Norton, 1975/1976). Proses yang terlalu cepat akan mengakibatkan keretakkan dikarenakan hilangnya air secara tiba-tiba tanpa diimbangi penataan partikel tanah liat secara sempurna, yang mengakibatkan penyusutan mendadak.
Untuk menghindari pengeringan yang terlalu cepat, pada tahap awal benda keramik diangin-anginkan pada suhu kamar. Setelah tidak terjadi penyusutan, pengeringan dengan sinar matahari langsung atau mesin pengering dapat dilakukan.
4. Pembakaran
Pembakaran merupakan inti dari pembuatan keramik dimana proses ini mengubah massa yang rapuh menjadi massa yang padat, keras, dan kuat. Pembakaran dilakukan dalam sebuah tungku/furnace suhu tinggi. Ada beberapa parameter yang mempengaruhi hasil pembakaran: suhu sintering/matang, atmosfer tungku dan tentu saja mineral yang terlibat (Magetti, 1982). Selama pembakaran, badan keramik mengalami beberapa reaksi-reaksi penting, hilang/muncul fase-fase mineral, dan hilang berat (weight loss). Secara umum tahap-tahap pembakaran maupun kondisi api furnace dapat dirinci dalam tabel.
Pembakaran biscuit
Pembakaran biskuit merupakan tahap yang sangat penting karena melalui pembakaran ini suatu benda dapat disebut sebagai keramik. Biskuit (bisque) merupakan suatu istilah untuk menyebut benda keramik yang telah dibakar pada kisaran suhu 700 – 1000oC. Pembakaran biskuit sudah cukup membuat suatu benda menjadi kuat, keras, kedap air. Untuk benda-benda keramik berglasir, pembakaran biskuit merupakan tahap awal agar benda yang akan diglasir cukup kuat dan mampu menyerap glasir secara optimal.
5. Pengglasiran
Pengglasiran merupakan tahap yang dilakukan sebelum dilakukan pembakaran glasir. Benda keramik biskuit dilapisi glasir dengan cara dicelup, dituang, disemprot, atau dikuas. Untuk benda-benda kecil-sedang pelapisan glasir dilakukan dengan cara dicelup dan dituang; untuk benda-benda yang besar pelapisan dilakukan dengan penyemprotan. Fungsi glasir pada produk keramik adalah untuk menambah keindahan, supaya lebih kedap air, dan menambahkan efek-efek tertentu sesuai keinginan.
Kesemua proses dalam pembuatan keramik akan menentukan produk yang dihasilkan. Oleh karena itu kecermatan dalam melakukan tahapan demi tahapan sangat diperlukan untuk menghasilkan produk yang memuaskan.
Di bawah ini kami mencantumkan sumber tulisan.  Bagi yang berminat belajar tentang proses pembuatan keramik, silakan kunjungi link di bawah ini…

http://mazgun.wordpress.com/2008/09/26/proses-pembuatan-keramik/

PROSES PEMBUATAN TAHU


Hari Minggu ini sehat dengan reiki rehat sejenak seputar reiki namun bersama tim liputan progama ibukota berkesempatan mengunjungi pabrik tahu di pinggiran kota Jakarta dan mengamati proses pembuatan tahu langsung di pabriknya. Tentu Anda semua kenal bahwa tahu sebagai salah satu jenis lauk pauk pelengkap makan mudah ditemui di seantero Jakarta bahkan di kota Anda sendiri setiap hari.

Keberadaan tahu hingga kini masih tetap digemari masyarakat mulai dari tingkatan sosial rakyat hingga pejabat, betul bukan? Nah...sebelum tahu-tahu tadi dikonsumsi ternyata makanan yang berasal dari kedelai ini mengalami proses pembuatan cukup unik dan menarik. Menariknya apa? Ayo sehat dengan reiki ajak Anda melihat ke pabriknya sambil mencicipi tahu di udara panas kota Jakarta siang ini.

Siapa yang tidak kenal tahu? Makanan yang biasanya dijadikan lauk pauk dan makanan selingan ini selain harganya murah meriah juga digemari oleh masyarakat banyak. Tahu yang dikonsumsi ini memiliki berbagai jenis nama dan macamnya. Ada tahu Bandung, tahu China, tahu Jambi, tahu Goreng dan tahu Sumedang.

Beda antara tahu goreng dan tahu Sumedang adalah pada tahu goreng sering digunakan untuk sayur sedangkan tahu Sumedang umumnya langsung dimakan dengan cabai rawit sebagai bumbu selingan. Tapi dari rasa tadi tahukah Anda bagaimana proses pembuatan tahu ini? Umumnya proses pembuatan tahu ini cukup sederhana dan tradisionil.

Awalnya kedelai sebagai bahan baku tahu dicuci dan direbus. Setelah kedelai masak atau empuk , kedelai-kedelai ini digiling dengan menggunakan penggiling hingga menjadi lembut yang diistilahkan aci. Selanjutnya aci ini direbus kembali dan hasil rebusan yang kedua kali ini diendapkan untuk selanjutnya di saring, dicetak serta didinginkan.

Selesai proses ini barulah tahu-tahu ini dapat digoreng. Untuk jenis tahu Bandung proses pembuatannya sama saja namun agar tahu ini mempunyai warna khas sebagai tahu Bandung maka ditambahkan pewarna asli dari kunyit. Kunyit yang sudah bersih ditumbuk hingga halus kemudian diletakkan ke dalam kain penyaring.Kemudian kain penyaring ini dimasukkan ke dalam air rebusan hingga air rebusan berwarna kuning kunyit.

Tahu yang telah dicetak dimasukkan dan direbus kembali hingga tahu berubah warna menjadi kuning kunyit. Tahu yang sudah menyerap warna kuning kunyit ini lalu diangkat dan didinginkan. Akhirnya tahu pun siap dipasarkan ke konsumen penggemar tahu baik di desa atau di kota. Ampas dari sisa pembuatan tahu ini bisa digunakan untuk ternak sapi.

Menurut Haji Dindin salah seorang perajin tahu mengatakan bahwa kedelai yang digunakan sebagai bahan baku tahu merupakan kedelai import yang didatangkan dari Amerika. Sebenarnya kedelai dalam negeri pun tidak kalah mutunya dibandingkan dengan kedelai import dari Amerika ini.

Pabrik tahu milik Pak Haji yang didirikan sejak tahun 1989 ini memproduksi hingga 400 tahu goreng dan tahu Bandung per hari. Dari produksinya ini tahu-tahu tersebut dipasarkan ke beberapa pasar tradisional di Jakarta. Saat ini harga di pasaran untuk satu potong tahu goreng dihargai 150 rupiah per potong, sedangkan untuk tahu Bandung 400 rupiah per potong.

Nah pertanyaan sehat dengan reiki kepada pembaca semua, "Sudahkan untuk hari ini saja Anda mengkonsumsi tahu sebagai lauk pauk ataukah Anda juga sering masak sayur tahu sebagai menu harian yang terhidang di meja makan?"

Sistem Informasi Pola Pembiayaan/ Lending Model Usaha Kecil

KERAJINAN TAS KULIT

ASPEK PRODUKSI
PROSES PRODUKSI
(1). Proses Produksi Berdasarkan Pesanan
Para pengrajin tas kulit dalam negeri memiliki kemampuan memproduksi tas dengan berbagai tingkat kesulitan dan dengan kualitas yang tidak kalah dari produk impor. Dengan kemampuan menghasilkan produk yang memiliki keunikan tersebut, maka konsumen sering membeli produk dengan cara memesan karena menghendaki produk dengan keunikan tersendiri. Bahkan untuk saat ini, pada umumnya sebagian besar penjualan produk tas kulit adalah melalui pesanan.
Sedangkan proses produksi dimulai dari penentuan produk yang akan dibuat. Jenis dan model produk ini bisa merupakan ide dari pengusaha sendiri, dan bisa juga berdasarkan pesanan. Setelah penentuan jenis produk, maka pengusaha melalui pengrajinnya membuat contoh produk yang dipesan. Jika contoh ini sudah sesuai, maka pengusaha menawarkan pada para pengrajinnya untuk memproduksi jenis produk tersebut. Kemudian mereka akan menerima bahan baku dan bahan penolong sesuai target yang ditetapkan oleh masing-masing pengrajin sendiri. Proses penentuan produk pesanan dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 4.1: Proses Produksi: Penentuan desain produk pesanan.
(2). Proses Produksi Bukan Pesanan
Proses pembuatan tas kulit sendiri (bukan pesanan) dapat dijelaskan sebagai berikut:
(1). Perencanaan.
Proses ini adalah penentuan jenis dan desain produk yang diinginkan. Setelah itu diperlukan pula perencanaan mengenai kebutuhan bahan baku yang akan diperlukan, bahan-bahan pembantu, sekaligus alat-alat yang akan digunakan untuk memproduksi produk tersebut. Pemilihan bahan dan alat yang tepat sangat berpengaruh terhadap kualitas produk yang dihasilkan. Pada tahap ini juga untuk menentukan waktu yang diperlukan untuk keseluruhan proses produksi.
(2). Pembuatan pola.
Setelah ditentukan jenis dan model produknya, kemudian dibuatkan pola untuk produk tersebut. Pola dibuat sedetail mungkin dan diberikan penjelasan yang lengkap mengenai ukuran, bahan yang akan dipakai, pemotongan, penyambungan maupun penjahitannya. Dalam pola juga harus jelas gambar-gambar untuk tanda jahitan, tanda sesetan dan lipatan, tanda perakitan, tanda pemasangan kancing, ring, atau assesoris lain, serta tanda banyaknya potongan bahan yang diperlukan. Tanda-tanda ini disebut dengan marking. Pola bisa dibuat dengan menggunakan bahan karton dan dengan alat sederhana seperti pensil, penggaris, jangka dan busur derajat. Untuk perusahaan besar, pola biasanya dibuat dengan menggunakan komputer.
(3). Pemotongan dan penyesetan.
Berdasarkan pola yang telah dibuat, kemudian bahan-bahan yang diperlukan dipotong. Potongan-potongan bahan ini yang nantinya akan dirakit/ dijahit. Pemotongan bahan dilakukan setepat mungkin untuk menghindari pembuangan bahan. Sedangkan penyesetan diperlukan untuk bahan-bahan yang nantinya akan dilipat. Agar pada lipatan bahan tidak menonjol, maka pada sudut lipatan dilakukan penyesetan (penipisan). Penyesetan ini bisa menggunakan pisau seset atau pun mesin seset.
Foto 4.1. Salah seorang pengrajin sedang melakukan pemotongan bahan sesuai pola.

Sumber: Agus Supriyanto, PSE-KP UGM
(4). Pemasangan assesoris.
Pada proses ini, pemasangan sebagian assesoris bisa dilakukan sebelum penjahitan/perakitan, dan sebagian yang lain setelah penjahitan. Assesoris yang digunakan seperti ring, gesper, ruitsliting, atau rangka besi untuk koper. Pemasangan merk juga dilakukan pada tahap ini dengan menggunakan mesin stamping. Selain merk, yang sering dipesan oleh konsumen adalah sablon pada tas pesanannya. Ini biasanya karena produk yang dipesan digunakan untuk acara tertentu. Untuk proses sablon sendiri para pengrajin biasanya memiliki langganan pengusaha sablon. Dan sebelum masuk proses selanjutnya, hasil sablon ini harus dimintakan persetujuan pada konsumen yang memesan.
Proses pemasangan assesoris ini bisa sangat beragam untuk produk yang berbeda. Bahkan untuk produk yang sama pun bisa menggunakan assesoris yang berbeda sesuai dengan keinginan konsumen.
Foto 4.2. Mesin Stamping

Sumber: Agus Supriyanto, PSE-KP UGM
(5). Penjahitan/perakitan.
Perakitan adalah peng-gabungan bagian-bagian yang sudah siap untuk menghasilkan bentuk produk. Perakitan bisa dengan menggunakan mesin jahit ataupun jahit tangan, bisa juga menggunakan lem untuk bagian-bagian tertentu. Penjahitan umumnya lebih kuat dari pada pengeleman. Setelah dijahit kemudian dilakukan finishing seperti penggosokan tas, dan penghalusan jahitan. Pada tahap ini juga dilakukan kontrol terhadap kualitas produk.
Foto 4.3. Salah seorang pengrajin sedang melakukan proses perakitan/penjahitan.


Sumber: Agus Supriyanto, PSE-KP UGM
Proses produksi tersebut dapat digambarkan dalam gambar alur sebagai berikut:
Gambar 4.2: Proses Produksi Bukan Pesanan
 
 http://www.bi.go.id/sipuk/id/?id=4&no=51115&idrb=45301

Distribusi Aqua Bakal Gunakan KA

PT Aqua Golden Mtssssppi Tbk menjajaki kemungknan menggunakan transports untuk pengiriman barang dan Sukabumi ke Jakarta dengan menggunakan kereta ap, dalam upaya menekan jejak ems karbon sejak proses produksi sampai pengiriman barang ke konsumen.

Kam sedang menjajaki menggunakan kereta api untuk transportasi dan Sukabumi ke Jakarta,1 kata Presdir PT Aqua Golden Mississippi Tbk, Parmanmgsh N Hactnegoro. di Jakarta, Selasa (25/5).Sejauh mi, pihaknya telah melakukan pembicaraan dengan Kementerian Perhubungan dan PT Kereta Api (Persero) untuk menjajaki kemungkinan tersebut, mengingat sampai saat ini jalur kereta api Sukabumi-Jakarta hanya dipakai untuk angkutan penumpang.

"Jalurnya (kereta api Sukabumi-Jakarta) memang padat sehingga Ma dipakai untuk angkutan barang waktunya terbatas, misalnya hanya malam han, ujar Parmaningah.Selain itu, pihaknya juga mash mempelajari apakah mungkin rel kereta api Sukabumi-Jakarta bea Opakai mengangkut kontainer

Parmaningsih mengakui biaya transportasi dengan menggunakan angkutan kereta api bdak lebih murah dibandingkan menggunakan truk Kalau dilihat secara ekonomis distribusi menggunakan kereta ap biayanya memang jauh lebih mahal, tap karm melihatnya dan ss lingkungan karena dengan kereta ap Mak menimbulkan polusi dibandingkan menggunakan truk-truk kontainer, katanya.Selam menjajaki transportasi barang dengan kereta ap (KA), Aqua, juga tengah menjajaki penggunaan bo-plastik untuk kemasan air minum dalam jangka panjang. Ops itu., kata Parmanmgsh, tengah dikaji untuk kepentingan keiangsungkan industri yang bernuansa alam

Penelitian mengenai bo-plastik itu, lanjut dia. dilakukan oleh Oanone internasional maupun Danone Indonesia sebagai pemegang merek Aqua, sebagai bagian dan komitmen mengurangi jejak karbon.Selama im kami terus berupaya mengurangi jejak karbon dengan mengurangi penggunaan plastik untuk kemasan, mrsamya penggunaan plastik telah turun 15 miligram menjadi 12,5 mdigram untuk kemasan 300 ml dan untuk kemasan botol 1,5 Mer (penggunaan plastik) turun dan 30 miligram menjadi 28 miligram/ kata Parmaningsih

Parmaningsh menambahkan, Aqua mendukung penerapan Standar Nasonal indonesia (SNI) wajib untuk aif minum dalam kemasan (AMDK) yang akan berlaku mulai Juli 2010.Kami sangat mendukung pemberlakuan SNI. karena dengan pencantuman label yang bens keterangan kandungan air, masyarakat jadi mengerti mana produk AMDK yang tergolong produk air mmeral atau produk air demineral,ujarnya yy
Entitas terkaitAMDK | Aqua | BK | Jalurnya | Kam | Mak | Mer | Oanone | Opakai | Ops | Parmaningsh | Parmaningsih | Penelitian | Sejauh | Selam | Sukabumi | Danone Indonesia | Kementerian Perhubungan | Parmanmgsh N | Standar Nasonal | PT Kereta Api | Distribusi Aqua Bakal Gunakan KA | Presdir PT Aqua Golden Mississippi | PT Aqua Golden Mtssssppi Tbk |
Ringkasan Artikel Ini
Selain itu, pihaknya juga mash mempelajari apakah mungkin rel kereta api Sukabumi-Jakarta bea Opakai mengangkut kontainer Parmaningsih mengakui biaya transportasi dengan menggunakan angkutan kereta api bdak lebih murah dibandingkan menggunakan truk Kalau dilihat secara ekonomis distribusi menggunakan kereta ap biayanya memang jauh lebih mahal, tap karm melihatnya dan ss lingkungan karena dengan kereta ap Mak menimbulkan polusi dibandingkan menggunakan truk-truk kontainer, katanya. Selama im kami terus berupaya mengurangi jejak karbon dengan mengurangi penggunaan plastik untuk kemasan, mrsamya penggunaan plastik telah turun 15 miligram menjadi 12,5 mdigram untuk kemasan 300 ml dan untuk kemasan botol 1,5 Mer (penggunaan plastik) turun dan 30 miligram menjadi 28 miligram/ kata Parmaningsih Parmaningsh menambahkan, Aqua mendukung penerapan Standar Nasonal indonesia (SNI) wajib untuk aif minum dalam kemasan (AMDK) yang akan berlaku mulai Juli 2010.

http://bataviase.co.id/node/226176

Proses Pembuatan Batik Tulis Pekalongan

Tahap-tahap pembuatan batik-tulis di Pekalongan adalah sebagai berikut. Sebelum kain mori dibatik, biasanya dilemaskan. Caranya adalah dengan merendam mori dalam air selama satu malam, kemudian dicuci selama ¼ jam dan direbus dalam air kanji atau tajin (air rebusan beras yang kadang diberi campuran daun bambu dan sedikit gamping). Cara ini disebut sebagai nganji.

Setelah dikanji, kain lalu digulung kemudian diletakkan di atas papan atau tempat yang datar lalu dipukuli dengan palu kayu. Proses menganji dan mengemplong ini dilakukan agar cairan malam yang nantinya digoreskan diatas kain tidak terlalu meresap ke dalam serat tenunan. Dengan demikian malam dapat dengan mudah dihilangkan.

Kemudian kita membuat desain batik diatas kain mori yang telah kering dengan pensil atau biasa disebut molani. Dalam penentuan motif, biasanya tiap orang memiliki selera berbeda-beda. Ada yang lebih suka untuk membuat motif sendiri, namun yang lain lebih memilih untuk mengikuti motif-motif umum yang telah ada.

Lalu menggunakan canting yang telah berisi lilin cair untuk melapisi motif yang diinginkan. Tujuannya adalah supaya saat pencelupan bahan kedalam larutan pewarna, bagian yang diberi lapisan lilin tidak terkena. Setelah lilin cukup kering, celupkan kain ke dalam larutan pewarna.

Proses terakhir adalah nglorot, dimana kain yang telah berubah warna direbus dengan air panas. Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin, sehingga motif yang telah digambar sebelumnya terlihat jelas. Anda tidak perlu kuatir, pencelupan ini tidak akan membuat motif yang telah Anda gambar terkena warna, karena bagian atas kain tersebut masih diselimuti lapisan tipis (lilin tidak sepenuhnya luntur).
 
http://id.shvoong.com/humanities/1951125-proses-pembuatan-batik-tulis-pekalongan/